Malaysia boleh berbangga, Johor Bahru dengan kawasan ekonomi khusus (KEK) Iskandar sebagai penggeraknya telah menjadi destinasi investasi di kawasan Asia Tenggara, dan Asia. 

Iskandar merupakan koridor ekonomi di Selatan Johor. Wilayah pengembangan meliputi area seluas 2.217 kilometer persegi. Luas wilayah ini tiga kali ukuran Singapura dan dua kali ukuran Hongkong.

Iskandar didedikasikan untuk Sultan Iskandar bin Sultan Ismail yang lahir di Johor Bahru pada 8 April 1932 dan wafat 22 Januari 2010 dalam usia 77 tahun.

Dia merupakan Yang Dipertuan Agung Malaysia ke-8 dan berkuasa sejak 26 April 1984 hingga 25 April 1989.

Melalui Iskandar Regional Authority Development (IRDA), mereka mampu menarik investasi ratusan triliun rupiah dalam kurun waktu satu dekade terakhir dari sembilan sektor berbeda.

Kesembilan sektor itu adalah manufaktur, logistik, pariwisata, kesehatan, pendidikan, keuangan, kreatif, pengembangan teknologi, pembangunan terpadu, properti residensial, properti industri, utilitas, dan pemerintahan.

Dalam catatan IRDA, sejak KEK Iskandar didirikan pada 2006 hingga kuartal I-2017, komitmen investasi yang mampu diraup adalah senilai 227 miliar Ringgit Malaysia (RM) atau ekuivalen dengan Rp 706,6 triliun.

Dari sejumlah itu, 56 persen di antaranya sudah direalisasikan dalam bentuk berbagai proyek dalam sembilan sektor.

Seperti apa perkembangan Iskandar aktual?

Tak ubahnya metropolis internasional modern dengan beragam fasilitas kelas dunia, dan jejeran pencakar langit atau skyscrapers yang menghiasi cakrawala kota.

Terdapat kawasan industri modern terpadu kelas dunia yang dikembangkan dua developer terkemuka yakni UEM Group dari Malaysia, dan Ascendas asal Singapura, bertajuk Nusajaya TechPark.

Selain itu, ada juga pengembangan skala raksasa lainnya yang diinisiasi developer Malaysia nomor wahid, Sunway Group. Megaproyek ini bernama Sunway Iskandar seluas 730 hektar.

Di dalamnya mencakup sarana pendidikan, akomodasi, taman bermain, pusat belanja, hunian, komersial, dan pusat kesehatan.

Berikutnya UMCity Medini Lakeside yang dibangun UMLand. Proyek ini merupakan salah pionir di Iskandar yang berisi apartemen, kondominium, dan hotel Citadines Medini, serta Shama Medini.

Kemudian Forest City yang merupakan hasil kolaborasi strategis antara pengembang China, Country Garden Holdings Co Ltd dengan Kumpulan Prasarana Rakyat Johor (KPRJ). Tak tanggung-tanggung, total luas lahan yang dibutuhkan untuk megaproyek ini 2.092 hektar.

Forest City digadang-gadang bakal menjadi proyek reklamasi terbesar di Malaysia. Di dalamnya mencakup hunian mewah, properti komersial pusat belanja, resor, hotel, perkantoran, taman, destinasi rekreasi, dan lain-lain.

Selanjutnya Leisure Farm Resort yang dibangun Mulpha Group. Kawasan hunian eksklusif ini seluas 700 hektar dengan pasar sasaran kalangan ekspatriat.

Hunian-hunian mewah di Leisure Farm Resort diminati pembeli investor dan end user dari 38 kebangsaan dan negara berbeda.

Sementara untuk fasilitas pendidikannya, Iskandar dipenuhi oleh 29 sekolah internasional dan kampus dari perguruan tinggi ternama. Sebut saja dari Inggris, Beland, Amerika Serikat, dan Jepang.

Mereka bukan filial, melainkan membuka cabang di sini dengan supervisi langsung dari negara asalnya.

Selain itu, terdapat juga pusat kesehatan berupa klinik, dan rumah sakit bertaraf internasional sejumlah 19 unit.

Tak lupa pula terdapat Traders Hotel dan LEGOLAND Malaysia Resort. Dua proyek ini merupakan katalisator kemajuan pembangunan kawasan ekonomi Iskandar.

Dengan pencapaian sejauh ini, Chief Executive IRDA Datuk Ismail Ibrahim mengungkapkan optimismenya untuk meraup target komitmen investasi hingga 2025 mendatang senilai 383 miliar RM atau setara Rp 1.192 triliun.

“Kami optimistis target tersebut dapat tercapai. Kendati perekonomian global sedang melemah, namun pertumbuhan Iskandar sekitar 7 persen hingga 8 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan Nasional bahkan di seluruh regional Asia Tenggara,” tutur Ismail.

IRDA, lanjut Ismail, mengemas Iskandar dengan menciptakan peluang berupa daya saing. Kami membangun di semua lini, mulai dari infrastruktur berstandar global, fasilitas, utilitas, dan lain sebagainya yang tercakup dalam rancangan induk komprehensif.

Insentif berupa pengurangan pajak, kemudahan perizinan, dan lain-lainnya hanyalah bonus dan bukan yang utama. Jika Batam mau lebih berkembang, ciptakan dulu peluang sebagai “gadis cantik” yang layak dipinang.

“Apa yang mau dijual, bagaimana kondisinya, kualitasnya, dan seterusnya,” tambah dia.

Ismail mengakui, Iskandar memang telah menjadi lokasi pilihan investasi di Asia. Mereka datang karena infrastruktur fisik sudah siap, seperti konektivitas yang baik melalui jalan, laut dan udara, serta infrastruktur lunak, seperti pendidikan yang sangat baik dan fasilitas kesehatan, fasilitas rekreasi, pariwisata, dan gaya hidup urban.

“Lokasinya yang strategis di jantung Asia menyediakan akses mudah ke kawasan ASEAN dan pasar sekitarnya,” kata Ismail seraya menambahkan, kedekatan Iskandar dengan Indonesia sebagai pasar yang terbesar sangat menguntungkan.

Iskandar Malaysia dapat diakses melalui jalan darat Tuas, melalui laut ke Puteri Harbour Fery Terminal dan juga Nusajaya menuju Bandara Internasional Senai. 

Lokasi strategis ini menempatkan Iskandar Malaysia dalam posisi yang tepat untuk tujuan bisnis dan wisata serta punya potensi bersaing dengan Singapura.

Miliki hunian dengan lifestyle pantai menghadap Singapore, satu-satunya project kepulauan bebas pajak yang tiada duanya.

Hub : Albert Winata 081218605308

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *